Monday, August 3, 2009

Harry Potter and The Half-Blood Prince

Dimulai dengan sebuah pertanyaan: Apakah film Harry Potter and The Half Blood Prince (HP 6) ini masih layak ditunggu sejak Warner Bros menundanya tujuh bulan lalu? Yang pasti novelnya sudah lama saya simpan di lemari karena HP 6 sudah terbit empat tahun yang lalu. Saya sudah nyaris tiga kali membaca buku setebal 607 halaman tersebut, namun – seperti fans lainnya – sempat kecewa karena versi filmnya ternyata ditunda. Para penggemar Harry Potter juga sudah merasakan ‘serangan’ Stephenie Meyer lewat empat saga Twilight-nya yang tiba-tiba laku keras, bahkan versi film pertama literatur vampir tersebut sudah difilmkan – dan sukses besar.

Tapi franchise Harry Potter, mengutip majalah Cinemags sepertinya sudah terkena mantra ‘anti-kritik.’ Apa pun yang mungkin dikatakan oleh para kritikus film, serial Harry Potter tetap saja laku. Terbukti, orang berbondong-bondong menonton film keenam ini sejak gedung bioskop dibuka sampai tengah malam. Dalam lima hari pertama sejak peluncuran pertamanya 15 Juli 2009, HP 6 sudah meraih US $391 juta! Sayangnya, HP 6 terkesan dibuat hanya untuk ‘menopang’ seri ketujuh yang merupakan kisah pamungkas, sehingga nilainya menjadi kurang sebagai sebuah film yang utuh.

Pubertas
Seakan sengaja dikontraskan dengan keadaan dunia sihir yang sedang dalam bahaya, seri keenam ini menampilkan sesuatu yang berbeda: para siswa tahun keenam Hogwarts memasuki masa pubertas; sesuatu yang tak bisa ditangkal oleh mantra sihir apapun. Berkat kreativitas penulis naskah Steve Kloves, pakem tradisional ditinggalkan. Film tidak lagi dimulai di rumah keluarga Dursley, namun di sebuah coffee shop subway, di mana Harry Potter terlihat sedang menggoda si pelayan (atau sebaliknya).

Sahabat-sahabat Harry, Ron Weasley dan Hermione Granger juga tidak luput dari fenomena tersebut. Ron akhirnya berhasil mengakhiri ‘ketidakpopulerannya’ dan melepaskan diri dari bayang-bayang Harry ketika Lavender Brown ‘bergayut’ di tangannya. Selain itu, ia juga dipercaya untuk menjadi kiper tim Quidditch asrama Gryffindor. Si ‘kutu buku’ Hermione sekarang menjadi impulsif dan emosional karena cemburu melihat kedekatan Ron dengan Lavender. Kisah cinta monyet anak-anak Hogwarts tersebut menjadi semakin rumit ketika melibatkan Cormac McLaggen, Romilda Vane, Ginny Weasley dan Dean Thomas.

Namun tanpa mereka sadari, Hogwarts perlahan-lahan menjadi tempat yang ‘gelap’ dan menakutkan. Antek-antek Voldemort, para Pelahap Maut (Death Eaters) terus berusaha menembus mantra pertahanan sekolah sihir tersebut. Hal ini disadari oleh Dumbledore, sehingga ia melatih Harry secara khusus, walaupun ia belum siap. Sebagai langkah awal, kepala sekolah sihir itu memperkenalkan Harry kepada salah seorang temannya bernama Horace Slughorn, yang memiliki ingatan yang berguna untuk menyingkap masa lalu Voldemort, sehingga kelemahannya dapat diketahui. Di samping itu, Harry juga ‘dibekali’ dengan buku teks ramuan aneh dengan nama pemilik ‘The Half-Blood Prince’, yang berisi catatan-catatan rahasia sehingga ia menjadi murid paling pintar di kelas Potions.

Kisah Hary Potter, sebagai sebuah bildungsroman, memasuki tahap di mana proses pengembangan karakter utama berlangsung lama dan melelahkan, di mana kebutuhannya sering bertolak belakang dengan keinginannya. Ia dibentuk oleh lingkungannya, sehingga tidak jarang ia gagal untuk berdiri sendiri. Sampai tahun keenam, Harry masih asal-asalan menggunakan mantra sihir, apalagi mengukur kekuatan lawan yang akan dihadapinya. Dalam teori Joseph Campbell, The Hero’s Journey (1985), sosok arketip utama, Hero (tidak bisa diterjemahkan sebagai Pahlawan), memang dibantu oleh seorang mentor atau guru. Ia memberikan ilmu, nasihat, latihan, bahkan senjata kepada Hero untuk menjalankan misinya. Namun, pada titik kulminasi waktu tertentu Hero harus berjuang sendirian tanpa kawalan sang mentor yang disebut The Wise Old Man tersebut. Dumbledore memang harus ‘dieksekusi’ pada HP 6 untuk memenuhi pola Hero’s Journey sebagai jalan menuju The Ordeal, tempat di mana ia harus menghadapi risiko sekaligus menyaksikan kematian sebelum meraih kemenangan. Hal ini juga menjadi semacam ‘a swift kick in the pants bagi Harry dalam mengatasi ketergantungannya kepada orang lain sehingga petualangan dapat dilanjutkan. Kedekatan, interaksi, dan emosi antara Harry dengan mentornya ditampilkan dengan sempurna dalam film ini.

Draco Malfoy, yang merupakan tokoh antitesis Harry selama ini terpilih menjadi eksekutor pertama Dumbledore. Sementara semuanya sibuk mengendalikan hormon mereka, Draco mulai memisahkan diri dari geng Slytherin. Ia mulai frustrasi dengan beban yang diberikan Voldemort kepadanya untuk melakukan sebuah misi yang sangat berat tersebut. Namun fakta bahwa Snape, pada saat-saat terakhir, mengambilalih peran Draco semata-mata merupakan kemahiran pengarang dalam mempermainkan perasaan penonton. Film diputus di sini sehingga menciptakan misteri besar untuk cerita selanjutnya.

David Yates sengaja menghapus pertempuran antara para Pelahap Maut dengan penghuni Hogwarts dan upacara pemakaman Dumbledore dalam HP 6. Akibatnya film ini terasa kurang utuh sebagai sebuah cerita yang memiliki penyelesaian (ending) setelah klimaks. Tetapi kita semua tahu bahwa tujuannya hanya satu: agar film berikutnya menjadi lebih misterius dan ditunggu-tunggu. Bagaimana sebenarnya posisi Snape yang mengaku sebagai The Half-Blood Prince itu? Bisakah Harry bisa bertahan tanpa Dumbledore? Atau apakah Hogwarts akan ditutup? Dalam sistem penceritaan, meminjam istilah Roland Barthes, HP 6 meninggalkan semacam kode hermeneutic bagi penonton dalam mengantisipasi Harry Potter and The Deathly Hallows episode I dan II.

HP 6 bukan untuk ‘Newcomer’
Secara sinematografis, HP 6 menurut saya adalah seri yang paling indah. Banyak gambar yang diambil dengan kamera handheld dari sudut yang menarik, sehingga HP 6 dapat menampilkan adegan-adegan keren, seperti ketika para Pelahap Maut beterbangan di langit kota London atau adegan kejar-kejaran antara Harry dan Bellatrix Lestrange di pekarangan rumah keluarga Weasley. Beberapa adegan tambahan (yang tidak ada di buku) juga terlihat menakjubkan, seperti adegan hancurnya jembatan Millenium atau terbakarnya rumah keluarga Weasley akibat ulah Fenrir Greyback dan sejawatnya.

Tetapi sebagai sebuah drama, HP 6 adalah cerita yang stagnan dan mungkin agak membosankan. Ia penuh dengan adegan dan tempat yang spesifik, serta karakter minor yang tidak begitu jelas perannya. Banyak dialog yang terasa begitu textbook, kaku dan tidak alami, sehingga membuat kita bertanya-tanya: Apa saja yang dilakukan anak-anak ini selama hampir satu dekade? Selain itu, terdapat kesan ‘berpanjang-panjang’ dalam menampilkan kisah cinta anak-anak Hogwarts, sehingga bahaya besar yang sedang mengancam menjadi ‘terpinggirkan’ dan klimaks terus tertunda.

Kali ini tidak ada lagi penjelasan-penjelasan detil mengenai suatu kejadian, karakter atau objek-objek yang ditampilkan. Penonton ‘harus’ sudah tahu plot cerita, latar, implikasi-implikasi dialog, dan lain sebagainya. Ternyata saya salah ketika menganggap bahwa HP 6 dapat menjaring penggemar baru tanpa perlu membaca buku. Salah seorang teman saya – non-fans – keluar dari gedung bioskop tanpa mengerti sedikitpun tentang film yang baru saja ditontonnya. Maaf teman, film ini ‘hanya’ diperuntukkan bagi para penggemar Harry Potter.

lumos!

Tuesday, June 30, 2009

Stres? Nonton Transformers

Karena terlalu sering menonton drama, saya hampir lupa bagaimana cara menikmati film Sci-Fi yang penuh adegan brutal dengan efek visual sepanjang cerita. Saya seringkali berganti-ganti posisi duduk, salah tingkah, bingung dan was-was kalau-kalau film ini ternyata buruk dan “Ya Tuhan, apakah saya akan membuang-buang waktu selama dua setengah jam di sini?” Untung saya nonton sendirian.

Tapi bioskop itu selalu penuh sampai deretan bangku paling bawah dan tiketnya bahkan sudah habis empat jam sebelum tayang. Tandanya animo masyarakat begitu tinggi dan saya akhirnya mengantri demi menonton Transformers: Revenge of The Fallen (2009). Saya sudah memasang ekspektasi yang rendah walaupun ada nama Steven Spielberg dan Michael Bay di dalamnya, serta Megan Fox yang mungkin diekspos secara maksimal untuk keperluan visual semata.

Ada yang tidak tahu Transformers? Generasi 1980an mungkin sudah akrab dengan serial kartun berjudul The Transformers yang dulu pernah ditayangkan di televisi lokal. Mereka adalah kaum robot yang berasal dari planet Cybertron, yang kemudian terpecah menjadi dua kubu: Autobots yang dipimpin oleh Optimus Prime (protagonis) dan Decepticons yang dipimpin oleh Megatron (antagonis). Para robot tersebut bisa bertransformasi menjadi berbagai bentuk kendaraan, perkakas, dan binatang. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan ukuran yang elastis, bisa mengecil dan membesar. Semuanya mendapatkan energi dari sebuah ‘kunci’ yang disebut dengan Matrix of Leadership (ah, bagi yang tidak tahu apa-apa tentang Transformers, tidak usah pusing, karena masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan).

Kembali pada prequel-nya Transformers, Megatron yang sekarat ternyata tidak mati. Ia kembali mengumpulkan energi dan menghimpun pasukan dari luar angkasa atas perintah The Fallen. Pada saat yang tepat, ia meluncur ke Bumi dan berhasil menamatkan riwayat sang Optimus Prime yang selama ini melindungi planet dari serangan Decepticons. Sedangkan Sam Witwicky (Shia LeBeouf) dan Mikaela Banes (Megan Fox) berada di tengah-tengah pertarungan kedua kubu tersebut dengan misi menghidupkan kembali Optimus Prime untuk pertarungan final melawan Megatron dan pasukannya.

Yang terjadi kemudian adalah suara dentingan besi, ledakan besar, tabrakan keras dan deru peluru non-stop yang mendominasi, bagaikan orgasme tanpa henti. Semuanya diciptakan dengan efek visual CGI yang ‘mengerikan’ dengan kamera beresolusi tinggi. Robot-robot dalam Transformers membuat Power Rangers, Ultraman, Cyborg, Robocop, atau Terminators seperti karikatur kasar coretan anak SD.

Walaupun penuh adegan kekerasan dan beberapa adegan hot, Transformers pada dasarnya adalah film anak-anak dengan rating PG-13. Namun, jangan mengharapkan dialog-dialog hebat atau akting memukau dalam film seperti ini. Itu sudah pasti. Situs RottenTomatoes hanya memberikan rating 21% dan menyebut Transformers: Revenge of the Fallen sebagai film yang “noisy, underplotted, and overlong special effects extravaganza that lacks a human touch.” Subplot-nya tidak pernah dikembangkan dan sangat mudah ditebak; mungkin dibuat untuk mengisi kekosongan beberapa menit ketika para robot sedang bersiap-siap untuk bertempur. Film ini seakan mengkhianati intelegensi.

Tetapi Michael Bay tentu saja tidak mau berjudi dengan menampilkan adegan-adegan sentimentil ‘tidak penting’ dalam film ini. Di tengah kemelut robot-robot penuh nafsu tersebut, adegan manusiawi apapun yang ditampilkan akan sia-sia saja. Toh, penonton tetap tertawa-tawa walaupun leluconnya garing dan slapstick khas komedi toilet. Lalu terharu menyaksikan ending yang klise-nya minta ampun. Pesan-pesan moralnya yang kadang dipaksakan dalam cerita tetap membuat orang-orang mengangguk-angguk takzim tanda setuju. Dan di bioskop itu saya melihat sekelompok anak-anak bertepuk tangan ketika Optimus Prime kembali hidup!

Sebagian orang mungkin perlu menyiapkan aspirin dan obat tetes mata untuk menonton film ini, lalu keluar dari gedung bioskop sambil memaki-maki. Tapi menurut saya, Transformers: Revenge of The Fallen dan film lain ber-genre sama memang murni ditonton untuk ditertawakan dan bukan untuk ditanggapi secara serius. Seperti halnya junk food, franchise Transformers memang populer, tapi bulan depan ia pasti akan terlupakan. Untuk sesaat, film ini mujarab untuk melepas lelah dan mengusir stres karena paling tidak selama dua setengah jam Anda tidak perlu memikirkan pekerjaan yang sedang menumpuk, debat politik Capres, virus Flu Babi, Manohara, atau kisah kawin cerai para artis yang setiap hari menjejali televisi.


Cheers!

Monday, June 22, 2009

Vicky Cristina Barcelona

Temaram dengan tone warna yang hangat dan keemasan, manis seperti madu yang membuat saya ingin ‘mencicipi’ layarnya, Vicky Cristina Barcelona* (2008) adalah sebuah drama komedi tentang dua orang turis Amerika yang sedang menghabiskan musim panas di kota Barcelona. Vicky (Rebecca Hall) ingin memperdalam kajian tesisnya tentang kebudayaan dan identitas masyarakat Catalan, salah satu etnik yang paling berpengaruh di Spanyol. Sedangkan Cristina (Scarlett Johansson) yang senang berpetualang, ingin mencari sesuatu yang baru, termasuk jati dirinya. Mereka mengunjungi museum setempat, arsitektur gereja Gaudi yang terkenal, menikmati masakan di restoran-restoran khas Catalan, dan malamnya duduk terbius oleh alunan gitar Asturias. Film ini memenuhi semua kebutuhan estetika yang ada: indah, hangat dan menggairahkan.

Tapi cerita sebenarnya baru dimulai ketika mereka bertemu dengan salah satu harta terbesar Spanyol: Javier Bardem. Ia memerankan Juan Antonio, seorang pelukis sekaligus sosialita lokal yang sedang jadi bahan pembicaraan masyarakat setempat karena baru saja bercerai dengan istrinya terkait masalah kekerasan dalam rumah tangga. Sebentar saja, Cristina sudah jatuh hati pada Juan Antonio hanya karena ia mengomentari mata dan bibirnya yang indah. Vicky awalnya menolak karena dua hal: Pertama, ia telah bertunangan dan akan segera menikah. Kedua, ia adalah seorang yang terpelajar, sedang mengejar magister, dan tidak mau dibodohi oleh seorang pria mesum yang tiba-tiba datang dan bilang, I'll show you around the city. We’ll eat well, we’ll drink good wine, we’ll make love”.

Syahdan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke Oviedo menggunakan pesawat pribadi Juan Antonio. Walaupun menggerutu, Vicky akhirnya ikut berangkat dengan alasan “to protect Cristina from making a fatal mistake.” Di luar skenario, kencan Juan Antonio dan Cristina buyar karena Cristina keracunan makanan sehingga terpaksa dirawat. Justru Vicky yang akhirnya ‘terjebak’ dalam hubungan cinta dengan pelukis tersebut. Pola cinta segitiga tersebut terus berlanjut, sampai akhirnya Maria Elena, mantan istri Juan muncul di layar dan mengobrak-abrik plot membosankan yang telah dibangun dengan rapi dari awal.

Selebrasi Cruz & Bardem
Menarik untuk membahas keempat tokoh tersebut. Rebecca Hall memerankan Vicky, sebagai satu-satunya round-character dalam film ini. Tipenya lugas, berbicara dengan pilihan kata yang ‘terpelajar’ pada awal film berubah menjadi plin-plan dan penuh pretensi di tengah cerita, terutama ketika ia harus berbohong kepada Doug tunangannya atau ketika ia merepresi rasa cemburunya kepada Cristina karena memiliki Juan Antonio. Vicky berevolusi ketika ia akhirnya kembali memilih kehidupan ‘mapan’ dan realistis setelah mengalami ketidakstabilan identitas di Barcelona dengan segala pesonanya. Namun hal itu tetap dibawakan dalam aksen Amerika yang datar dan arogan oleh aktris yang juga bermain dalam film Frost/Nixon ini.

Sedangkan Scarlett Johansson, ah, di mana pun ia tampil tetap saja lovable. Perannya dalam Vicky Cristina Barcelona sama sekali tidak bisa dibilang jelek karena karakteristik Cristina sepertinya memang dirancang seperti itu. Sulit untuk tidak membandingkannya sewaktu bermain dalam film Match Point (arahan Woody Allen juga) dengan karakter yang nyaris sama: muda, penuh hasrat namun tanpa tujuan. Ketika ia tinggal bersama Juan Antonio dan Maria Elena dalam satu rumah, ménage à trois, Cristina-lah yang paling sedikit membuat inisiatif dan manuver interaksi. Saya juga jadi mahfum kalau kecantikan Cristina langsung pudar begitu ia ‘diinterogasi’ oleh Maria Elena. Misalnya, ia hanya bisa mengatakan “ni hao ma” dalam bahasa Mandarin, padahal ia mengaku telah mempelajari bahasa itu. Mungkin ia hanya kurang improvisasi untuk mengimbangi para pemeran lain, karena sebagai satu-satunya yang berambut pirang, Cristina hanya akan memperkuat stereotip kejam bahwa “blonde is dumb.”

Tentu saja, sepertiga terakhir dari film ini akhirnya benar-benar dikuasai oleh pasangan Bardem dan Penelope Cruz*. Akting keduanya begitu memukau, ‘kimia-nya’ luar biasa. Apalagi ketika mereka bertengkar dalam bahasa Spanyol yang cepat dan seksi itu; silabel ‘oo’ pada setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka membuat Vicky atau Cristina terpaksa melongo. Saya tidak bisa mengelak lagi bahwa tokoh Maria Elena yang diperankan Cruz ‘menelan’ Vicky dan Cristina hidup-hidup (dan tentu saja Cruz dapat Oscar untuk itu). Dengan durasi singkat yang diberikan padanya dalam film ini untuk peran seorang perempuan liar dan neurotik, ia sanggup menghadirkan karakterisasi yang kuat dan memorable.

Sedangkan Juan Antonio yang diperankan Bardem berada di tengah-tengah mereka, mencoba untuk merangkul semuanya dengan kalimat-kalimat khas buaya darat. Baginya perempuan itu sama saja dengan kanvas untuk ia lukis. Ia bisa bebas berekspresi dan bereksplorasi di situ; mencoret-coret kanvas untuk membuat lukisan abstrak yang rumit, serumit hubungannya dengan Vicky, Cristina dan Marie Elena. Walaupun berbeda 180 derajat dengan perannya sebagai bandit dalam film No Country for Old Men, Bardem sangat berhasil. Lagipula, menurut situs Internet Movie Database, ia adalah satu-satunya pilihan Woody Allen untuk mengisi peran Juan Antonio.

Menurut saya selebrasi pasangan selebritis tersebut tidak akan mencederai judul Vicky Cristina Barcelona, karena subjek dari cerita tersebut memang Vicky dan Cristina, serta Barcelona sebagai ‘karakter’ ketiga. Unik, karena Barcelona dalam hal ini mewakili dua tokoh, yaitu Juan Antonio dan Maria Elena yang melebur dalam cita rasa Catalan.

Narator dan Ironi
Kompleksitas karakterisasi yang unik tersebut ternyata tidak diimbangi dengan skrip yang berbobot. Film ini minim humor-humor verbal yang cerdas (witty) atau bahkan sarkastis khas film-film komedi Hollywood. Dialog-dialognya tidak terlalu banyak, terasa agak datar dan hambar, terutama pada paruh pertama. Saya selamat dari rasa bosan berkat durasinya yang cuma 96 menit. Mungkin film ini ingin menonjolkan keindahan latar kota Barcelona, tetapi ada ‘sesuatu’ yang hilang di sana.

Sebagai gantinya Woody Allen, yang belakangan hobi membuat film di Eropa ini, memberi posisi seorang narator omniscient (yang mengetahui segalanya) kepada aktor Christopher Evan Welch. Ia ‘ditugasi’ untuk membeberkan kejadian–kejadian yang dialami oleh para tokoh kepada penonton, sehingga narasi yang disampaikannya seolah-olah seperti skenario pada setiap adegan. Narasinya mengingatkan saya pada chorus yang selalu hadir dalam setiap skrip drama Yunani Kuno. Saya tidak ingin menuduh bahwa kehadiran narator digunakan untuk menutupi skrip yang buruk, tapi penonton drama komedi tidak harus dipandu dengan cara seperti itu.

Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah mengungkapkan hal tersebut sebagai “the foolish business of storytelling by ceaselessly bringing to the reader’s attention, explicitly or by allusion, the existence of an author” (What is Literature?, 1950). Lebih jauh, narator di Vicky Cristina Barcelona bisa dibaca sebagai ‘intervensi’ Woody Allen. Ia mengatakan apa yang akan terjadi dan dan menyimpulkan kejadian beberapa hari ke dalam satu paragraf. Jeda antara suara narator dan dialog para karakter membuat saya ‘hilang.’ Akibatnya film ini lebih banyak ‘menceritakan’ ketimbang ‘menampilkan’. Dan jujur saja, bagi saya suara sang narator yang semi-formal itu menjadi sangat mengganggu dan menyebalkan! Kalau memang kehadiran narator harus dipaksakan dalam film tersebut, mungkin akan lebih menarik jika ia merupakan salah satu dari para karakter, misalnya Judy, yang rumahnya digunakan oleh Vicky dan Cristina untuk menginap selama di Barcelona, sehingga ia cukup tahu mengenai kedua perempuan tersebut.

Tetapi ada beberapa hal yang tetap belum terjawab, yang menyisakan ironi pada Vicky Cristina Barcelona. Misalnya, mengapa Vicky ingin menikahi pria kaya tapi membosankan yang selalu ‘mengganggunya’ setiap saat lewat telepon itu. Atau, untuk apa juga ia mengambil tesis tentang budaya Catalan, padahal tidak bisa berbahasa Spanyol. Atau absurditas yang ditunjukkan Cristina ketika ia mencoba membuat film berdurasi 12 menit yang berjudul “Why love is so hard to define?” padahal selama summer di Barcelona ia tak kunjung menemukan jati dirinya sendiri, alih-alih menemukan arti cinta.

Atau tentang Juan Antonio, sang sosialita merangkap pelukis. Rumahnya yang penuh lukisan, bajunya yang selalu kotor oleh cat air, dan pergaulannya dengan teman-teman sesama artis, semuanya begitu kental dengan dunia artistik. Namun ia sama sekali tidak bicara tentang seni. Kita juga diberi tahu bahwa bapaknya adalah seorang pujangga, tapi tidak secuil pun puisi keluar dari mulutnya. Seni hanya ditempel sebagai pemanis cerita; motif dan simbol-simbol artistik digunakan hanya untuk menggambarkan Barcelona secara sempit. Ia seolah-olah mengatakan pada kita bahwa jika tinggal di Barcelona harus ada lukisan abstrak, puisi dan alunan gitar!

Diringi dengan backsound ‘Barcelona’-nya Giulia y los Tellarini serta gambar-gambar menakjubkan dari latar salah satu kota paling eksotis di dunia oleh Javier Aguirresarobe, Vicky Cristina dan Barcelona sebenarnya adalah film yang indah dan enak ditonton. Namun sebagai bagian dari judul, ‘Barcelona’ tidak begitu diintegrasikan ke dalam cerita dan pengembangan para karakternya. Kutipan Maria Elena bahwa “only unfulfilled love can be romantic” terasa ironis mengingat ‘ketidakterpenuhan’ film ini. Seperti tidak terjadi apa-apa, “a passing thing”, seperti kata Vicky pada adegan terakhir, cerita selesai sebagaimana ia dimulai.

*Vicky Cristina Barcelona mendapatkan Golden Globe Award 2009 untuk kategori Best Motion Picture – Musical or Comedy.

*Penelope Cruz mendapatkan Academy Award 2009 untuk kategori Best Actress in Supporting Role.

Thursday, May 21, 2009

Menyikapi UU Pornografi dengan Kepala Dingin*

Akhirnya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi) mendapat “tantangan” secara resmi setelah disahkan pada 26 November 2008 lalu, yaitu berupa Constitutional Review atau uji materil terhadap Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Seperti tidak terbendung lagi, para pemohon uji materil yang mayoritas merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini menolak habis-habisan beberapa pasal di dalam UU Pornografi yang mereka anggap bias dan menyesatkan, sehingga bertentangan dengan prinsip UUD 1945.

Sejak awal penyusunannya beberapa tahun yang lalu, UU Pornografi (dulunya disebut RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi atau RUU APP) memang kerap menuai kontroversi. Mulai dari definisi pornografi itu sendiri sampai pada pasal-pasal multitafsir, yang sering menjadi bahan pertengkaran. Ketika sudah mulai rampung pun, terlepas dari minimnya sosialisasi, sebagian besar masyarakat yang kontra sudah terlanjur bersikap apriori dan sinis terhadap undang-undang ini. Walaupun beberapa perbaikan secara signifikan dilakukan, masyarakat telah terlanjur curiga. Akibatnya, uji publik UU Pornografi ini pun hanya efektif dilaksanakan di empat kota, yaitu Jakarta, Banjarmasin, Makassar dan Ambon, yang memang mendukung disusunnya undang-undang tersebut. Sedangkan daerah-daerah lain yang menentang undang-undang ini bergeming. Penduduk Bali bahkan bersumpah akan melakukan aksi telanjang masal jika UU Pornografi jadi disahkan (saya tidak tahu apakah hal ini jadi dilaksanakan atau tidak).

Definisi yang bermasalah itu
Masalah pertama yang mencuat ketika disusunnya undang-undang ini adalah mencari definisi yang tepat untuk istilah pornografi. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu porne (pelacur) dan graphos (gambar atau tulisan) yang secara harfiah berarti “tulisan atau gambar yang berhubungan dengan pelacur.” Sejak tahun 1900an, definisi pornografi selalu mengalami perubahan, baik dari segi makna, bentuk maupun variasi. Apalagi ketika ditemukannya teknologi fotografi dan gambar hidup (film). Hadirnya film-film bermuatan seks seperti El Satario di Argentina pada 1907, A L’Ecu d’or Ou La Bonne Auberge di Perancis pada 1908, Am Abend di Jerman pada 1910 (Patrick Robertson, Film Facts, 2001) dan berkembangnya majalah-majalah pria seperti Playboy, Penthouse, atau Modern Man di Amerika Serikat pada 1960an merupakan catatan penting dalam pemaknaan pornografi. Sekarang ketika media digital menjadi rumah terbesar bagi konten pornografi, definisi pornografi bahkan lebih luas lagi cakupannya.

Selaras dengan hal tersebut, dalam RUU APP yang sudah dimulai sejak tahun 1997 di DPR (berisikan 11 Bab dan 93 Pasal), pornografi didefinisikan sebagai “suatu substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika”, dengan rujukan dasar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sementara pornoaksi diartikan sebagai “perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum.” Kedua definisi tersebut membuat pihak yang kontra meradang, karena sangat subjektif dan multitafsir. Selain itu, terdapat pula kesalahan elementer dalam pemakaian kata sifat “seksual” sebagai kata benda atau kaburnya makna “erotika”, yang lebih diasosiasikan kepada hal positif oleh ahli bahasa.

Bagaimanapun juga, definisi universal mengenai pornografi memang tidak ada. Dari kamus Oxford Advanced Learner’s sampai KBBI terdapat penafsiran yang berbeda terhadap pornografi. Namun pada tahun 2007, ketika judul RUU APP diubah menjadi RUU Pornografi, definisi pornografi dirombak total dan ketentuan mengenai pornoaksi dihapuskan, karena dinilai mengkriminalkan tubuh. UU Pornografi juga menghilangkan frase “membangkitkan hasrat seksual” yang sempat diselipkan di dalam RUU (bandingkan dengan definisi kamus). Hal ini disadari akan menimbulkan salah persepsi di dalam masyarakat, karena hasrat seksual seseorang memang tidak dapat diukur dengan indikator apa pun. Tetapi setelah ini, jika masih saja ada anggapan bahwa perempuan yang memakai kebaya yang sedikit terbuka di bagian dada pada waktu upacara perkawinannya akan ditindak pidana, rasanya amat berlebihan dan terkesan mencari-cari kesalahan.

UU Pornografi: Gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Oxford Adv. Dictionary: Books, videos, etc. that describe or show naked people and sexual acts in order to make people feel sexually excited, especially in a way that many other people find offensive.

Merriam-Webster Dictionary: Materials (as books or photographs) that depict erotic behavior and is intended to cause sexual excitement; the depiction of acts in a sensational manner so as to arouse a quick intense emotional reaction.

K B B I: Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.

Batasan tegas terhadap pornografi
Penyusunan undang-undang ini juga tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang begitu permisif terhadap maraknya pornografi. Tumbuh pesatnya ketersediaan dan keterjangkauan materi pornografi di berbagai produk media komunikasi dan atau pertunjukan ini telah sampai pada titik yang mencemaskan. Materi pornografi kini tersedia lebih beragam dan dapat diakses dengan sangat mudah bahkan murah oleh siapapun, tanpa memandang usia.

Mengutip data dalam buku Azimah Soebagijo berjudul Pornografi: Dilarang Tapi Dicari (2007), survei Yayasan Buah Hati pada tahun 2005 menunjukkan dari 1075 murid SD kelas 4 sampai dengan kelas 6 di Jabotabek, 25% telah mengakses dan mengonsumsi media pornografi melalui HP, 20% melalui internet dan sisanya melalui media lainnya. Survei lembaga pemerhati Internet Jejak Kaki Internet Protection di DKI Jakarta menunjukkan bahwa 27% anak pernah membuka situs porno, 97% anak mengetahui mereka bisa mendapatkan situs berbau pornografi di Internet, sedangkan 67% anak akan membuka situs porno jika ada kesempatan. Sebagai tambahan, menurut situs toptenreviews.com, jumlah situs porno saat ini mencapai 4,2 juta (12% dari jumlah total situs), yang memuat sekurang-kurangnya 450 juta halaman yang mengandung muatan pornografi. Menurut penelitian tersebut, sebanyak 42,7% pengguna Internet telah melihat situs porno serta men-download 1,5 miliar konten pornografi setiap bulannya (35% dari jumlah total download di dunia maya).

Sementara itu, produk hukum yang telah ada di Indonesia cenderung lemah dan kurang dapat menjangkau fenomena ini. Faktanya, sejumlah aturan yang ada seperti KUHP, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, hingga Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga sekalipun, selain belum optimal ditegakkan, juga belum spesifik mengatur tentang pornografi.

Regulasi memang akan selalu mengikuti perkembangan zaman. Dalam konteks ini, keberadaan UU Pornografi diperlukan untuk memberikan payung hukum yang jelas terhadap korban-korban pornografi, terutama anak-anak dan remaja. Mereka yang sering terpapar pornografi akan cepat disergap candu dan terobsesi sehingga perhatiannya teralihkan dari kegiatan-kegiatan yang positif, seperti belajar, berolahraga, bahkan bersosialisasi. Kita tidak bisa menyangkal bahwa banyak sekali kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak dan remaja yang terjadi setelah para pelaku menonton film porno. Lebih dari itu, saya juga sepakat dengan feminis Amerika seperti Catharine MacKinnon dan Susan Brownmiller yang menilai bahwa pornografi adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan. Industri pornografi, menurut Brownmiller, tidak hanya mendegradasi tetapi juga merupakan propaganda yang besar dan terstruktur melawan perempuan.

Kebebasan yang tidak tak terbatas
Jeremy Bentham dalam Theory of Legislation (1931) mengatakan, “Every law is contrary to one’s liberty”; setiap produk hukum itu selalu berlawanan dengan kebebasan seseorang. Ketika sebuah peraturan dibuat untuk “merekayasa” masyarakat (dalam arti positif tentunya) dan mengubah pola pikir (mind set), ia mempunyai dua sisi yang seimbang: ketika ia “merenggut” kebebasan suatu kelompok, ia memberikan kebebasan kepada kelompok yang lain.

Dalam hal UU Pornografi, misalnya, ketika setiap orang dilarang menjajakan layanan seks atau memperjualbelikan materi pornografi, di saat bersamaan justru memberikan kejelasan hukum bagi institusi-institusi pendidikan dan atau kesehatan yang dulunya masih ragu-ragu untuk mengajarkan sex education atau dokter kelamin yang biasanya masih risih mempresentasikan anatomi tubuh manusia dalam sebuah forum terbuka, karena Pasal 14 UU Pornografi melegalkan penggunaan materi pornografi untuk kepentingan kedua subjek tersebut. Bahkan produk-produk media cetak, seperti majalah dan tabloid yang memuat model berpakaian minim (asalkan sesuai konteks) pun sebetulnya mendapatkan jaminan hukum, asalkan tidak dijual kepada anak-anak dan dikemas (segel) tanpa menonjolkan atau memerlihatkan konten porno. Hal ini diatur sepenuhnya dalam Pasal 13 beserta Penjelasan.

Begitu juga masalah ruang privat, yang merupakan salah satu isu yang dikhawatirkan oleh para Pemohon Constitutional Review UU Pornografi. Selama ini ada kekhawatiran bahwa undang-undang ini akan menggerus ruang privat masyarakat. Tetapi perlu diluruskan dulu bagaimana sebenarnya batasan antara ruang privat dan ruang publik itu jika dikaitkan dengan konteks kehidupan kita sebagai bangsa yang majemuk serta hak dan kewajiban sebagai warga negara. UUD 1945 selain mengatur tentang hak juga menetapkan kewajiban warga negara pada  Pasal 28J ayat (2): “dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain.”

Menurut Lyman dan Scott dalam Social Problems (1967), setiap orang baik secara sadar atau tidak, memiliki ruang privat yang bila dilanggar akan menimbulkan ketidaknyamanan, terkait dengan penguasaan tubuh (body territory) maupun ruang imajiner pribadi (personal space). Memiliki, menyimpan, dan menggunakan materi pornografi untuk diri sendiri sebenarnya merupakan bagian dari priviledge ranah privat masing-masing orang, yang tidak bisa diatur oleh negara. Ketentuan ini pun dijamin dalam penjelasan Pasal 6 bahwa: “larangan memiliki atau menyimpan [materi pornografi]” tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri”.

Namun perbuatan itu bisa berubah menjadi tindak pidana jika materi pornografi yang diproduksi dan digandakan tersebut disebarluaskan untuk mencari keuntungan. Ketika wilayah privat tersebut bersinggungan dengan “wilayah” orang lain, sehingga salah satu pihak merasa dirugikan, negara berhak untuk campur tangan. Pasal 29 dalam hal ini menentukan bahwa pelanggaran tersebut bisa dipidana “penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).” Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi faktanya industri pornografi itu merupakan industri miliaran dolar.

Lalu, Pasal 43 yang kemudian mengharuskan (dalam ketentuan perundangan, kata “harus” tidak mempunyai sanksi) setiap orang yang memiliki dan menyimpan produk pornografi untuk “memusnahkan sendiri atau menyerahkan kepada pihak berwajib untuk dimusnahkan” bukan berarti dapat dikontradiksikan dengan Penjelasan Pasal 6 yang membolehkan pemakaian dan penyimpanan materi pornografi untuk diri sendiri. Hal ini hanya bertujuan untuk memberikan kesadaran (awareness) kepada masyarakat, agar memiliki tanggung jawab dalam menyimpan materi pornografi, jangan sampai diakses oleh anak-anak atau tersebar ke ranah publik (apalagi jika objeknya adalah diri sendiri).

“Mengesankan ketelanjangan” yang bagaimana?
Pada umumnya, pihak yang kontra cenderung salah paham dalam melihat substansi UU Pornografi. Pertama, penggunaan rujukan pada naskah akademik atau draf lama (RUU APP atau RUU Anti Pornografi), sehingga kritik yang diberikan menjadi tidak relevan. Kedua, kecenderungan untuk hanya menilik pasal-pasal tertentu yang kira-kira gampang diserang, tanpa mengaitkannya dengan pasal-pasal lain sebagai suatu kesatuan undang-undang yang utuh. Ketiga, dan ini yang agak krusial, yaitu alpa membaca bagian Penjelasan undang-undang yang menjelaskan makna bahkan pengecualian pasal demi pasal. 

Misalnya, ketentuan Pasal 4 ayat (2) huruf a, mengenai “tampilan yang mengesankan ketelanjangan” yang banyak diributkan tersebut. Pada bagian penjelasan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “mengesankan ketelanjangan” adalah suatu kondisi seseorang yang menggunakan penutup tubuh, tetapi masih menampakkan alat kelamin secara eksplisit. Hal ini sebenarnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Tetapi, ketika dikaitkan dengan kondisi di pedalaman Papua di mana masyarakatnya memakai koteka, tidak bisa lantas dijadikan kontra argumen, karena mereka tidak sedang mempertontonkan alat kelamin atau ketelanjangan, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai kecabulan atau eksploitasi seksual. Memang begitulah norma kesusilaan yang terdapat di sana dan negara tidak berhak mengintervensi.

Lebih jauh, UU Pornografi juga tidak “mengutak-atik” kreativitas para seniman yang spesialisasinya mungkin adalah membuat karya-karya berbau pornografi. Segala macam produk budaya, tarian, pakaian, ritual adat, termasuk sastra, tetap dihormati sebagai kekayaan negara; ketentuan ini bahkan disediakan khusus di Pasal 3. Jika karya-karya seni tersebut memang ternyata eksplisit menggambarkan pornografi, tetap akan diakomodir asalkan dijual dan atau dipamerkan di tempat-tempat khusus, seperti galeri seni, pameran budaya, pasar seni dan lain sebagainya. Jadi ketika ada pihak-pihak yang mencoba “memanfaatkan” UU Pornografi untuk menindak kegiatan kebudayaan dan atau keagamaan yang mereka anggap mengandung unsur pornografi, justru telah melanggar undang-undang itu sendiri. 

 

*** 
Memang tiap kali produk hukum disahkan hanya akan memberikan dua respon: 
tidak puas atau sakit hati. Undang-undang, seperti halnya produk hukum lainnya adalah buatan manusia, yang pasti memiliki cacat dan kesalahan. Sejak reformasi bergulir, UUD 1945 saja telah mengalami empat kali perubahan (amandemen), apalagi produk peraturan perundangan di bawahnya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, misalnya, sejak disahkan tidak pernah berhenti dirundung masalah. UU Pornografi pun setali tiga uang. Adanya permohonan uji materil ini pun sebenarnya sudah bisa memberikan penilaian bahwa undang-undang ini memiliki kelemahan. Belum lagi penulisan (redaksional) yang sedikit banyak menyalahi kaidah penyusunan peraturan, misalnya bagian penjelasan yang terlalu panjang dan kontradiktif sehingga dapat “menelikung” isi pasal. Di samping itu  sebelum dua Peraturan Pemerintah yang diamanatkan dalam Pasal 14 dan 16 selesai, UU Pornografi dipastikan tidak akan berjalan optimal. Namun, ia telah disahkan dan harus diimplementasikan. Ketika musyawarah buntu, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak dan memang begitulah hidup bernegara dalam tatanan sistem demokrasi.

Namun, saat ini tidak pada tempatnya lagi perdebatan antara pro dan kontra pornografi. Kita semua, toh, sepakat untuk melawan pornografi, karena ia merusak mental anak-anak kita dan berpotensi besar memicu kekerasan (seksual) lebih jauh. “Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul, tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama, misalnya keberagaman,” pesan budayawan Putu Wijaya. Daripada bersitegang memperlihatkan urat leher, lebih baik duduk bersama minum kopi, sambil mengupas dan memahami satu per satu pasal-pasal UU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Kalau memang kuat alasannya, mengapa tidak, siapkan bahan gugatan, dan Constitutional Review di Mahkamah Konstitusi pun halal dilakukan.

Pada akhirnya, masyarakatlah yang paling berhak untuk diyakinkan. Pemerintah dan DPR wajib melakukan sosialisasi secara komprehensif, tidak hanya di daerah-daerah yang mendukung UU Pornografi, tetapi juga di daerah lainnya, sehingga bisa dipahami bahwa produk hukum anyar ini bertujuan demi kebaikan bersama, dalam konteks masyarakat yang merayakan kebhinnekaan tentunya. Mari kita mencoba untuk menyikapi UU Pornografi yang “terlanjur” diundangkan ini sebagai sebuah perangkat penguat (engineering tool) dari peraturan perundangan yang sudah ada sebelumnya (dibarengi dengan perubahan yang dramatis dalam proses penegakan hukum), alih-alih sebagai produk sia-sia yang banyak menguras harta negara.

*Ditulis sebagai tanggapan kecil terhadap uji materil UU Pornografi di Mahkamah Konstitusi.

Slumdog Millionaire, Amitabh Bachchan, dan Potret Jujur Kota Mumbai

Jika saya jadi Amitabh Bachchan, saya juga pasti tercengang-cengang dan loncat dari kursi ketika menonton Slumdog Millionaire (2008). Saya, eh, Amitabh punya alasan yang kuat untuk itu. Selama ini dalam film-film Bollywood ia begitu heroik dan selalu berperan sebagai jagoan, orang kaya yang tinggal di rumah mewah, dan menampilkan kehebatan-kehebatan negerinya, serta terkenal seantero dunia.

Namun, tiba-tiba pria asal Inggris itu (baca: Danny Boyle) membuat manuver tajam yang sama sekali tidak diduga banyak orang. Ia dengan vulgar menggambarkan kehidupan masyarakat paling bawah dalam masyarakat India; potret anak-anak jalanan ala Charles Dickens, yang hidup dalam lingkungan yang kumuh, penuh kekerasan dan minus pendidikan yang layak. Saya, jika jadi Amitabh, juga pasti emosi melihat anak-anak India, yang mengidolakan saya, dijadikan ‘binatang’ dan ‘diburu’, dan dicaci maki karena nasib mereka. Dalam blog-nya, Amitabh mengatakan:

If [Slumdog Millionaire] projects India as [a] Third World dirty underbelly developing nation and causes pain and disgust among nationalists and patriots, let it be known that a murky underbelly exists and thrives even in the most developed nations.

Sepanjang film kita disuguhi tur gratis kehidupan jelata orang India. Dan barangkali, yang paling membuat Amitabh geram, hal tersebut disaksikan jutaan orang di seluruh dunia. Itulah yang dibuat oleh Boyle dalam film yang membawa pulang delapan piala Oscar, yang di antaranya untuk Best Motion Picture ini.

The Power of Coincidence
Slumdog Millionaire diangkat dari novel best-selling India berjudul Q & A karya Vikash Swarup. Diadaptasi ke dalam skrip oleh Simon Beaufoy, film ini bercerita tentang seorang pelayan yang mendapat kesempatan untuk ikut kuis Who Wants to Be a Millionaire yang pernah begitu booming pada periode 2003– 2006.

Semua orang suka kuis Who Wants to Be a Millionaire. Boyle sendiri mengakui bahwa salah satu dasar pembuatan film ini adalah karena ia menggemari kuis tersebut. Nasib film ini sepenuhnya terletak di bahu Jamal (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas berhadapan dengan Prem (Anil Kapoor), sang pembawa acara kuis. Selangkah lagi Jamal akan memecahkan rekor dengan memenangkan 20 juta Rupee. Namun sang pembawa acara dan polisi tidak percaya: bagaimana pula seorang yatim piatu, yang tidak bersekolah dan tinggal di daerah kumuh itu bisa menjawab seluruh pertanyaan dengan benar? Skeptisisme yang masuk akal dan wajar. Lalu, Boyle membawa kita ke tiap suspense, flash back, klimaks, dan detil kejadian yang memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan kuis. Plot yang unik.

Tapi apakah semua itu bukan merupakan kebetulan belaka? Kebetulan saja setiap pertanyaan yang diajukan dalam kuis adalah representasi hidupnya. Kebetulan saja, misalnya, ketika Jamal diberitahu temannya bahwa foto dalam lembaran US$100 adalah Benjamin Franklin. Namun, “cinta akan menemukan jalannya” dan Boyle mengeksplorasi tema itu dalam setiap bingkai kilas balik kehidupan Jamal. Jika tidak percaya pada probabilitas dan peluang, silakan saja menganggap Slumdog Millionairefilm yang mengada-ada.

Tapi seperti yang kita ketahui, tujuan Jamal bukanlah uang, tetapi cinta (huhuhu mulia sekali dia). Jamal benar-benar merepresentasikan lirik lagu “Who Wants to Be a Millionaire?” (1956) yang dulu pernah dinyanyikan oleh Cole Porter: “Who wants to be a millionaire? I don’t, and I don’t, cause all I want is you...” Setiap detil kejadian dalam hidupnya, Jamal berusaha mencari Latika (Freida Pinto), teman masa kecilnya yang sangat ia rindukan. Walaupun pada akhirnya ia tahu bahwa Latika telah dijadikan gundik seorang kepala preman, ia tetap mencintai Latika. Dialah jawaban semua pertanyaan yang diajukan kepada Jamal. Jamal hanya ingin ‘memenangkan’ Latika.

Anomali
Menurut saya, Boyle sangat berani membuat film seperti Slumdog Millionaire. Padahal ia nantinya hanya akan punya dua hasil: gagal total atau sukses besar. Dan kita semua tahu bahwa pada akhirnya Boyle memperoleh yang kedua. Delapan piala Oscar bukanlah prestasi sembarangan (saya benci menjadikan Oscar sebagai parameter, tapi mau bagaimana lagi?).

Namun, Amitabh yakin bahwa Slumdog Millionaire terkenal hanya karena dibuat, disutradarai dan ditonton dari perspektif Barat. Amitabh merasa nasionalismenya ditelanjangi (memang dalam beberapa adegan Boyle menunjukkan superioritas Barat, seperti ketika dua orang turis Amerika ‘mengajari’ orang hitam India agar memperlakukan anak-anak dengan pantas. Dalam hal ini, Boyle ‘gagal’ menghindari stereotip negatif yang mungkin muncul dari adegan tersebut). Salah seorang teman saya bergurau dengan mengatakan, “Coba kalau pembawa acara kuis itu diperankan oleh bung Amitabh Bachchan, pasti reaksinya akan lain.” Terlepas dari praduga teman saya, Amitabh punya poin sendiri yang dapat ia perdebatkan.

Bagi saya film ini tetaplah sebuah anomali pada tahun 2008; berbudjet rendah namun sangat menghibur, dibangun dengan tema sederhana bahwa “uang tak dapat membeli cinta” namun sangat dalam. Film ini juga diperkuat oleh tiga karakter (Jamal, Salim dan Latika) yang diperankan oleh sembilan orang dalam tiga fase. Semuanya begitu personal dan individualistik, sehingga kita tidak pernah salah mengetahui mana Jamal kecil, Salim remaja, atau Latika dewasa. Selain itu, Anil Kapoor yang memang merupakan superstar di India, juga memberikan karakter yang kuat kepada tokoh Prem, si Pembawa Acara kuis yang pongah itu. Sedangkan latar yang diambil begitu jujur dan nyata menggambarkan sisi lain kota Mumbai. Ditambah aransemen yang menggetarkan dari A.R. Rahman, Slumdog Millionaire rules! 

PS: Oh ya, jangan khawatir untuk mengajak anak-anak berumur 10 tahun untuk menonton film ini. Walaupun ada sedikit adegan kekerasan, namun tidak begitu ditonjolkan. Sepertiga film ini diisi oleh Jamal kecil, yang penuh perjuangan untuk bertahan hidup. Hal ini bisa jadi pelajaran bagus untuk anak-anak, bahwa di luar sana banyak yang bernasib sama sekali berbeda dengan mereka.

Road to Oscar: Film Adaptasi Cerpen dan The Curious Case of Benjamin Button

Tak terhitung banyaknya novel yang telah dijadikan film, baik itu karya klasik atau kontemporer. Dari Gone With the Wind sampaiTwilight, para sineas tampaknya berlomba-lomba mengadaptasinya ke layar lebar. Drama juga favorit untuk diangkat ke layar lebar; seluruh drama Shakespeare sudah diadaptasi ke film dan bahkan beberapa di antaranya memiliki beberapa versi pada tahun yang berbeda. Pihak Academy pun memberikan dua kategori penilaian yaitu Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay.

Lalu bagaimana dengan adaptasi cerita pendek? Jika dibandingkan dengan novel dan drama, cerpen barangkali kalah favorit untuk diangkat ke layar lebar. Selain ceritanya yang jauh lebih singkat, cerpen juga minim tema, dialog, deskripsi, dan tentu saja, karakterisasi. Akibatnya, interpretasi yang lebih dibutuhkan ketika mengadaptasi sebuah cerpen menjadi film yang sukses. Kita toh tetap bisa menyaksikan film film blockbuster seperti Minority Report (2004) arahan Steven Spielberg yang diangkat dari cerpen Phillip Dick; Brokeback Mountain (2006) yang diangkat dari cerpen Annie Proulx; Lust, Caution (2007) yang diadaptasi dari cerpen Eileen Chang. Dua film terakhir berhasil disutradarai dengan baik oleh Ang Lee. Lalu ada juga Million Dollar Baby (2004) yang disutradarai oleh Clint Eastwood dari karya F.X. O’Toole, dan berhasil memenangi banyak penghargaan.

Tapi bagaimana caranya film-film yang berdurasi rata-rata dua jam tersebut sukses hanya dengan mengadaptasi sebuah cerpen, yang sebenarnya dapat dibaca dalam sekali duduk? Hal ini sepertinya masih menjadi salah satu rahasia besar Hollywood. Film yang diangkat dari cerpen hanya membutuhkan pondasi utama yaitu seluruh cerita itu sendiri. Si penulis skenario tidak akan disibukkan dengan kegiatan memangkas jalan cerita, namun membangunnya dari cerita yang sudah ada. Tetapi ada juga penulis skenario dan sutradara yang langsung memelintir plot, karakterisasi, dan tone cerpen tersebut sehingga menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda. Ada yang berhasil, ada juga yang gagal. Misalnya, film yang sekarang sedang ramai dibicarakan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Film yang diangkat dari cerpen karya F. Scott Fitzgerald ini ditulis oleh Eric Roth dan disutradarai oleh David Fincher dan berhasil menyabet 13 Nominasi Oscar tahun ini, termasuk kategori Best Pictures, Best Directordan Best Actor in Leading Role (Brad Pitt).

Tidak Menggigit
The Curious Case of Benjamin Button (CCBB) versi film sangat berbeda dengan versi cerpen Fitzgerald. Roth, yang juga menulis skrip film fenomenal Forrest Gump (1994), hanya mengadaptasi nama Benjamin Button dan ide cerita tentang hidup yang terbalik—Benjamin lahir dengan fisik seseorang berumur 87 tahun dan seiring bertambah usianya, kondisi fisiknya malah semakin muda (reverse aging). Selebihnya, merupakan imajinasinya Roth sendiri. Namun, kolaborasinya dengan Fincher menurut saya hanya menghasilkan cerita datar selama nyaris tiga jam. Tidak ada eksplorasi karakter; ia juga tidak menyebutkan bagaimana Benjamin bisa lahir seperti itu, atau setidaknya menampilkan konflik masa kecil Benjamin dengan teman-teman sepermainannya, sehingga terasa sensasi keanehannya. Hal ini nantinya juga berperan dalam memperkuat karakternya ketika tumbuh dewasa. Selain itu, latar cerita juga tidak dieksplorasi dengan dalam. Dan yang kurang masuk akal, perubahan fisik Benjamin tidak pernah diekspos oleh media dan orang-orang terdekatnya.

Baiklah, ide tentang badai katrina dan gaya penceritaan flash back ala Titanic-nya cukup inovatif, tapi tidak ada keterangan apa-apa mengenai kejadian-kejadian ketika Benjamin hidup selain ditulis di dalam diari. Bagaimana kondisi tahun 50an dan 60an ketika Benjamin mengalami transisi hidup yang cukup penting tidak dijelaskan. Benjamin hanya menonton Twist and Shout-nya The Beatles, dan saya berkata dalam hati, “Oh, itu tahun 1967..”

Mungkin ada sedikit kisah sentimentil ketika Benjamin menjalin hubungan dengan Daisy. Namun, Fincher sedikit gagal menampilkan konflik kedua karakter itu. Chemistry keduanya kurang juga meyakinkan saya. Ketika anaknya lahir, Benjamin memutuskan untuk pergi karena tubuhnya yang semakin muda sehingga tidak mungkin menjadi ayah. Keputusan Benjamin inilah yang membuat CCBB jadi terasa datar sekali. Padahal jika ia tetap tinggal dan menjadi ayah, akan banyak sekali konflik yang bisa digarap (sebagai perbandingan, di dalam versi cerpen, Benjamin sampai tua diurus oleh anaknya). Akibatnya, kita hanya disuguhi kehebatan tata rias wajah dengan efek CGI dan close-up muka Brad Pitt sepanjang film. Benjamin sangat membosankan dan nyaris tidak “memberikan” apa apa kepada penonton; ia hanya berjalan mengarungi waktu dan seolah melambaikan tangan kepada kita sambil berkata, “Hey, I’m 60 now, but look much younger!” 

Situs RottenTomatoes memang sempat memberika positive respons sebanyak 72%, tapi rata-rata pujiannya bukan karena kemampuan akting yang luar biasa. Menurut saya, tampilan visual effect bukanlah segalanya. CCBB gagal menampilkan kepada penonton, bagaimana reverse aging tersebut memberikan pengaruh yang dalam kepada si tokoh utama. Filosofi hidup apa yang mungkin ia dapat dengan kehidupan seperti itu. Saya juga bukan anti-Brad Pitt. Banyak perannya yang menurut saya worth-Oscar di masa lalu, tapi tidak dilirik oleh Academy. Namun ironisnya, ketika ia tidak memberikan kemampuan akting yang mumpuni dalam CCBB, ia mendapat nomineesebagai Best Actor in Leading Role. Tidak nampak keistimewaan seorang Brad Pitt di sana. Kalau begini, tokoh Benjamin sepertinya bisa dimainkan aktor mana pun. (Jelas bagi saya, mengadaptasi cerpen ke dalam film bukanlah pekerjaan gampang. Memang proses pengambilan tema, karakter, atau plot-nya sama seperti di dalam novel, tetapi tetap dibutuhkan kreatifitas dan orisinalitas dari sang penulis skenario dan sutradara untuk membangunnya ke dalam film berdurasi empat kali lipat lebih lama dari membaca versi cerpennya).

'Empat Mata' atau 'Bukan Empat Mata', yang Penting Tukul Arwana

Tukul Arwana kembali. Setelah sempat dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tanggal 4 November 2008 lalu, Empat Mata kembali dengan nama baru, Bukan Empat Mata. Trans7 tidak perlu pusing memikirka nama Empat Mata yang telah menjadi merek dagang yang sangat kuat di pasar. Yang penting Tukul Arwana tetap ada.

Acara terakhir dihentikan menyusul ditampilkannya adegan memakan kodok oleh salah seorang bintang tamu acara. Selain itu Sumanto yang juga dihadirkan pada acara tersebut juga dinilai tidak relevan dan tidak lucu untuk sebuah acara reality show yang bernuansa komedi. Empat Mata dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran / Standar Program Siaran (P3 SPS) yang telah ditetapkan oleh KPI. Tiga peringatan telah dilayangkan kepada pihak Trans Corporation, namun tetap diabaikan. KPI pun bertindak tegas dan memberikan ‘kartu merah’ kepada Trans7 berupa penghentian tayangan dengan masa percobaan satu bulan.


Poros 
Namun belum sampai satu bulan, Trans7 sudah menghadirkan Bukan Empat Mata, yang tayang perdana pada tanggal 1 Desember 2008. Acara ini tidak berbeda dengan pendahulunya. Semua hal dalam format lama tetap ditampilkan pada format baru ini. Tokoh utamanya tetap Tukul didampingi Vega dan Pepi. Tukul tetap dalam keluguan dan kepolosannya menghadapi kecanggihan teknologi yang dijewatahkan pada laptop yang berfungsi sebagai ‘buku teks’ Tukul dalam membawakan acara. Dan jargon legendaris “kembali ke laptop!” itu tetap ada! 

Veven S.P. Wardhana, seorang pengamat budaya populer, mengatakan bahwa Empat Mata sering ‘tergelincir’ ketika mengundang bintang tamu yang sama sekali tidak menjadi bintang. Jika ingin mengetahui bintang tamu secara lebih mendalam, paling-paling mereka diminta menyanyi, atau memainkan alat musik, atau berakting. Kupasan atas sebuah masalah atau pada sosok bintang tamu tetaplah berupa basa-basi, semu, dan sering merupakan sarana untuk memicu ‘improvisasi’ kelucuan dari Tukul. Para bintang tamu adalah ‘bubuk mesiu’ untuk meledakkan sense of humor Tukul sehingga mereka mesti siap dikorbankan. Tidak ada istilah “tamu adalah raja”; bagi Tukul, dialah poros utama dan plot cerita. Sandra Dewi yang cantik hanya menjadi perhatian selama 15 menit pertama. Setelah itu ia terpaksa gigit jari nyaris sampai acara berakhir. Selebihnya kita hanya melihat Tukul yang ‘merajalela.’

Tukul dalam hal ini bermain drama, pantomim dan sinetron sekaligus. Dalam ‘ber-drama’ ia bergerak dan berkata-kata sesuai sesuai skenario dan dialog dari sang pengarah cerita dan tim kreatif. Saking ‘patuhnya’ Tukul pada laptopnya tersebut, sampai-sampai ia akan memohon-mohon jika, misalnya, Pepi menyembunyikannya. Tukul juga pandai sekali ‘berpantomim’. Penonton sudah bisa dibuatnya terpingkal-pingkal dengan satu gerakan bibir dan kibasan tangan, plus diiringi teriakan-teriakan penonton. Ia juga sedang ‘bermain’ sinetron dalam artian, gurauan, ide, dan tindakannya kadang tidak lagi logis dan masuk akal sehat, seperti halnya sinetron. Lawakannya kadang keterlaluan, tidak peduli dengan SARA.

Nyaris tidak ada yang berubah pada Bukan Empat Mata. Tukul tetap cium pipi kanan dan cium pipi kiri dengan Sandra Dewi. Matanya siap bergerilya menatap kecantikan Sandra. Tangannya siap menggerayangi lengan dan paha Sandra. Tukul benar-benar 'tidak peduli' dengan peraturan KPI. Humor yang melecehkan fisik seseorang tetap menjadi bahan utama lawakan. 

Mungkin ada tambahan segmen yaitu pembacaan berita-berita aktual yang disajikan dengan kocak untuk kemudian dikomentari oleh Tukul. Namun yang jelas, Tim Kreatif acara tersebut terlihat sama sekali tidak kreatif dalam membangun sebuah acara baru. Kata ‘Bukan’ yang ditambahkan pada acara Empat Mata seperti mengisyaratkan ‘perlawanan’ terhadap pencekalan yang dilakukan oleh KPI. Karena jika acara ini bukan lagi seperti Empat Mata yang telah dicekal, isinya harus berubah dengan memperhatikan P3 SPS. Walaupun diganti dengan nama apa pun, isinya akan tetap sama selama di dalamnya ada Tukul.

Yah, peduli amat, mau Empat Mata, mau Bukan Empat Mata, yang penting ada Tukul Arwana. Keledai saja tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali, namunBukan Empat Mata sudah jatuh dan terjerembab berkali-kali ke dalam lubang yang ia gali sendiri.

An Iliad: Another Iliad?


Alessandro Baricco tiba-tiba dapat ide yang menurutnya brilian. Dia punya cara baru membaca epik The Iliad karya Homer.

The Iliad  memang terlalu sulit dibaca oleh orang awam karena ditulis dengan bahasa njelimet. Struktur dan durasinya mungkin merupakan alasan utama orang tidak suka membaca klasik lagi. Baricco lalu punya solusi bagi pembaca modern. Ia memotong bagian-bagian tertentu dalam The Iliad deskripsi panjang nan melelahkan, menjadi cerita yang relatif gampang dikonsumsi.

Tidak sampai di sana. Ia pun melakukan sesuatu yang tergolong berani untuk editan karya penulis besar sekaliber Homer. Baricco menceritakan kisah perang Troya dari perspektif banyak karakter, baik utama maupun minor. Perang tersebut berakhir setelah sepuluh tahun ketika Odysseus menemukan cara untuk menyusup ke dalam gerbang Troya dengan memanfaatkan kepercayaan bangsa tersebut terhadap Apollo. An Iliad karya Baricco memang hanya fiksi. Dan setiap pengarang bisa melakukan apa saja terhadapnya. Namun, 'mengacak-ngacak' karya Homer tidak saja bisa disebut berani, tetapi butuh kelihaian, terutama dalam penulisan karakterisasi.

Di buku ini tentu saja kita akan menemukan banyak sekali karakter, karena mereka semua bercerita (dibandingkan dengan The Iliad, yang mungkin hanya terfokus pada beberapa karakter utama). Kita akan menyaksikan kegelisahaan Andromache ketika Hector hendak bertarung mempertahankan harga diri Troya; kesedihan Hecuba, ibu Hector, ketika ia menginginkan keluarganya kembali utuh seperti sediakala; ketakutan Paris ketika hendak memutuskan untuk bertarung atau tetap bercinta dengan Helen; perasaan Patroclus ketika dilarang ikut berperang oleh Achilles, rasa 'nasionalisme' Diomedes untuk menghancurkan Troy, dan sudut pandang karakter-karakter kecil lainnya yang mungkin tidak seeksplisit dalam karya 'asli'.

An Iliad mungkin bisa menjadi cara baru membaca klasik. Ada kesenangan tersendiri ketika mengetahui bagaimana jalan cerita dari berbagai sudut pandang. Dan pengaruh hebat yang mungkin akan diciptakan Baricco adalah bahwa para pembaca digiring untuk mencintai klasik, mulai mencari-cari karya-karya masterpiece tersebut di toko buku, dari pengarang macam Sophocles, Dante, atau Shakespeare. Alih-alih menganggap bahwa The Iliad sudah kuno dan ketinggalan zaman, pembaca (dalam hal ini saya) akan dibuat penasaran untuk membaca karya terbesar dalam literatur tersebut.

Monday, March 10, 2008

Batu Busuk Trilogy: Our Hero Pattern

A trilogy doesn’t only belong to Lord of the Rings, but also to our hiking agenda in Batu Busuk (please don’t translate it as rotten-stone, indeed). I had been involved in the down-the-river rally, ad hoc, crossing the threshold of the wilderness and the unknown. A hero pattern had begun.

It was neither the quest for rescuing kidnapped princesses, nor the fight for slaying the dragons. It was simply crossing the river streams, conquering a new ‘land’ and establishing a small lot to get some lunch. If Harry Potter was motivated by the need of killing the Dark Lord, we were about to satisfy our own ids and kill the boredom. Joseph Campbell, who was celebrated for his book The Hero with a Thousand Faces (1956), introduced us the hero pattern into three treads: The Departure, The Initiation, and The Return.

The Departure ensued when the lads were gathering from all directions in Pasar Baru. I should have always stirred up early in the morning to get the place, unless witnessing the crowd marching forward and leaving me behind. When the girls began to share the equipments, food stock, and the surviving tools, the boys were trying to map the road ahead, although they had done some surveys down the Batu Busuk valley. Once everything was settled up, we were called for adventure.

It was not the most breathtaking journey in the world, but it was surely filled with some severe cramps and spasms along the road. There was no supernatural aid coming for help. Campbell’s pattern was rigid however, and not every quest should be conveyed toe-to-toe with his theory. In his attempt to conquer Troy, Agamemnon was assisted by Odysseus and Achilles; Hamlet mysteriously gained help from the spirit of his father to make revenge; Tin Tin might have constantly been accompanied by his loyal Snowy or the Captain; however, Antigone or Medea were without companions at all in their missions. Variations are the heart of the hero patterns.

The medical utensils had always there for the first aid, though. Titin, for example, could have gasped heavier for her leg injury, if Pono wasn’t there to help. Pono was the aid herself, but was surely not the supernatural one. Next, the forest was stepped with a brawny determination. In average, every hiking had always been graced with the presence of no less than twenty people. Heavy bushes and the hissing of the snakes couldn’t have done better than just annoying. Nobody scared.

When we were approaching the river, it came the time to cross the threshold since beyond the stream was something unexplored. The Strongs of the group would create a ‘human-fencing’ system by stretching their arms to one another and help the Weaks pass the river. Though it was proved successful, some used the method to snatch the rare opportunity of being close with the ones they care or love. Hala!

Having finished with the boundary things, we came in the second phase of the expedition: The Initiation. There were the roads of trials lie ahead. Crossing the river was not without pain. Jagged pebbles and prickly materials under the water were more than frustrating. I found my toes wounded in the first hiking because I was not used to be in such a situation before. Renal’s nail was torn apart from the shell. Half of the participants had nothing to argue since they all experienced the same painful kind of adaptation in the Newfoundland. I had also witnessed big lizards lurking from behind a tree and the goddamn brown leech sucking my blood.

The series of trials had transformed the ‘heroes’ in some major ways to become tougher to continue the journey. It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies, but just as much to stand up to our friends. The Ordeal has been established. The selfishness and pride had been transformed into modesty and humbleness. At the end of the journey we found the place to rest and prepared the merrymaking. Finally, prize had come to hand as the lads swimming in the river and greedily making involvement in the gala lunch. The crown was for Barbarossa, the jouissance was for us.

The final stage of the journey, The Return, corresponds to the conclusion. The heroes then occasionally tried to decline the comeback. The hiking was stuck in the place where great moments were shared and everybody was hesitant to return. The refusal was a kind of direct impulse now that the heroes had reached their mission. Because the essence of the return was to be ready to live the daily life and function in the society again, we found it hard to move.

But we surely had to progress. The return would automatically be the reversed version of all the stages, from crossing back the river stream with all its difficulties until climbing the valley up to the forest. The last nemesis to fight was the exhaustion and fatigue, and we won. Sometimes, however, things could have turned roughly. And this far, some of the participants have ever collapsed; I broke my breath and was attacked by the bronchitis asthma once arrived home.

But we declared ourselves the Master of Two World, where the Batu Busuk life and thesis-making classes intertwined to one another; it had been the third time I join in the hiking, not to mention that it could have been a tetralogy in a short period of time.

The journey is a map
While the story of the Journey first manifests itself in the ancient myths and legends, it is still around us today. It is the basis for almost all of the books we read, plays we act and hikings I march. Even our routine activity from getting up from bed, going to work, and coming back home was a kind of hero pattern. There is a hero within ourselves.

We also see it in television in the forms of The Simpsons, The Matrix, Lion King, Harry Potter, or Samurai X. The journey gives us a means for understanding and benefiting from these fictional adventures. Even if the characters aren’t real, the journeys they take and challenges they face are reflections of the real journeys and challenges we all face in life. If we understand the hero pattern, we will be better able to face difficulties and use our experiences to become stronger and more capable. The pattern can help us achieve wisdom, growth, and independence, and carrying out the journey helps us become the people we want to be.


*Dedicated to my hiking companions.